DENPASAR, KOMPAS.com — Kalapas Kerobokan, Siswanto, membantah kabar yang beredar bahwa kerusuhan di Lapas Kelas II A Kerobokan, Denpasar, Sabtu (25/6/2011) akibat narapidana tak terima dirazia oleh petugas Badan Narkotika Nasional (BNN).
Siswanto menegaskan, kedatangan BNN bukan untuk melakukan razia, melainkan hanya menangkap seorang narapidana bernama Riyadi yang diduga masih aktif sebagai bandar di dalam lapas.
"Tidak benar ada razia, saya masih punya surat yang diberikan BNN, kedatangan BNN hanya untuk menangkap Riyadi," tegas Siswanto kepada Kompas.com saat ditemui di rumah dinasnya, Jalan Tangkuban Perahu Denpasar, Minggu (26/6/2011).
Menurut Siswanto, meledaknya amarah penghuni lapas lainnya adalah bentuk solidaritas antarnarapidana. "Solidaritas antara napi sangat kuat sekali, bayangkan saja mereka lagi enak-enak tidur trus ada teriakan rekan mereka ditangkap," jelas Siswanto.
Puncak kemarahan napi saat sejumlah petugas BNN hendak mencari barang bukti berupa telepon genggam milik Riyadi di dalam wisma. Napi akhirnya mengamuk dan memukul mundur petugas BNN.
Riyadi pun gagal ditangkap oleh BNN karena mereka buru-buru keluar untuk menyelamatkan diri. "Saya ga tau posisi Riyadi saat itu di mana karena kondisinya sudah seperti itu. Saat itu yang lebih penting adalah keselamatan para pegawai Lapas yang ikut ke dalam," imbuh Siswanto.
Meski mengalami luka di bagian kepala, tangan, dan kaki akibat dihajar oleh narapidana, Siswanto beserta jajarannya berhasil keluar dari wisma Cempaka tersebut. Salah seorang petugas BNN yang menjadi bulan-bulanan narapidana juga turut diselamatkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang